~Chapter 5~
<3 Taekwondo in Love 1 <3
Cast :
-
Lee Byung
Hoon (L.Joe)
-
Han Yu I(Yui)
-
Hoya
-
Dll
Siang hari yang cerah di SMA Jeonbu. Saat itu klub
taekwondo sedang mengadakan latihan. Dua orang sudah berdiri berhadapan. Wajah
mereka sangatlah serius.
“Heaaa!!”
teriak salah satu orang itu. Tidak lama dari itu, ia sudah dikalahkan oleh
lawan dihadapannya.
“Lagi-lagi
kalah melawan Yui!” teriak penonton yang mengikuti klub juga.
“Terlalu
kuat sih!” sambung yang lainnya. Mereka saling berbisik-bisik.
“Berapa
nih skornya sekarang? 0 banding 998?”
“Bukannya
997?”
“Ngaco!
Kan sudah 998!”
“Sudah
999 tahu!” perbincangan mereka yang merendahkan sang pria membuatnya geram.
“Arasseo!!!
Diam kalian!!” pria itu marah dengan gaya taekwondonya.
“Berisiiikk!!!!”
suara pria itu kalah dengan suara lawannya. Dialah Yui. Yeoja yang mengikuti
taekwondo dan belum terkalahkan oleh siapapun, termasuk namja satu ini.
“Jangan
mengeluh! Wleeek! Dasar siput!” yeoja bernama Yui itu selalu seperti ini.
“Jangan
sebut aku siput!!” mereka saling berhadapan kali ini.
“Sebenarnya
Byung Hoon juga bukan orang yang lemah, ya.. Tapi, Yui memang terlalu kuat!”
bisik para anggota klub yang notabene pria. Mereka membincangkan ByungHoon dan
Yui seperti ahjumma yang sedang bergosip.
Yui adalah pemain taekwondo
nasional yang paling kuat di sekolah. Tahun ini, dia menang telak dan
mengalahkan semua pemain. Yui dan L.Joe, begitu Byung Hoon disapa oleh Yui.
Mereka sudah kenal sejak TK. Mereka terus bersaing sampai sekarang. Terlihat
sekali dari wajah mereka.
“Lain
kali, aku pasti menang!!!” L.Joe tak ingin kalah.
“Jangan
memaksa!” jawab Yui santai. Ia tak menatap L.Joe kali ini. Lalu, ia kembali
menatapnya dan tersenyum kecil. Itu membuat L.Joe bingung.
“Aku
mau pindah sekolah. Jadi tak aka nada pertandingan berikutnya.. Mianhae, ne?”
ujarnya.
“Mwoya?!!!”
****
Ting Tong….
Suara bel berbunyi. Jam pelajaran
akan segera dimulai. Walaupun bel sudah berbunyi, tapi guru belum juga masuk ke
kelas 1-3. Mereka memanfaatkannya untuk berbincang-bincang. Beberapa orang
mengerumuni bangku Yui.
“Yui,
sebenarnya kau akan pindah kemana?” tanya Sohee.
“Hmm,
orangtuaku berkata Seoul..” jawab Yui dengan tenangnya.
“Ne?!
Jauh sekali!”
“Aniyo..
Kalau naik kereta akan lebih cepat..” jawabnya lagi.
“Kapan?”
“Minggu
ini.”
“Memang
mendadak, ya..”
“Mianhaeyo…”
jawab Yui dengan cerianya. Tanpa ia ketahui, dua orang pria memperhatikannya
dari belakang.
“Yui
kan tempat penyelenggaraan olimpiade kali ini..” ujar salah satu pria yang
memakai kacamata itu. L.Joe nampak memperhatikan wajah Yui dengan serius.
“Oi!”
teriaknya, ucapannya mengarah pada Yui.
“Ada
apa, siput?” jawab Yui seperti biasanya.
“Jangan
sebut aku siput!!!! Kau ingin kabur dariku, ya?!!” pertanyaan ini membuat Yui
kaget.
“Hah?
Apaan sih? Aku tak tahu apa yang kau maksud…”
“Kau
tahu persis! Tentukan harinya dalam minggu ini!”
“Mwo?”
“Kapan
kau pindah?!!!”
“Apa
sih maumu?!!!” semua murid sekelas memperhatikan perdebatan sengit mereka.
Karena L.Joe tidak menjawabnya, Yui pun menjelaskannya.
“Hari
minggu…” Yui mengalihkan pandangannya.
“Kalau
begitu, hari sabtu saja!”
“Ne?”
“Pertarungan
kita yang terakhir! Dalam pertarungan ke-100 kali ini, aku pasti akan menang!!”
L.Joe begitu bersemangatnya. Seakan-akan kita bisa melihat api membara
disekujur tubuhnya.
****
Sore itu, nampak L.Joe yang
sedang berlatih di ruangan taekwondo bersama anggota lainnya. Saat itu Yui tak terlihat
hadir. Sepertinya ia sedang menpersiapkan kepindahannya. Tapi, L.Joe justru
memanfaatkannya untuk pertarungan mereka hari sabtu nanti. Ia meminta anggota
lain satu per-satu menghadapinya. Anggota lain pun menghadapinya, namun mereka
kalah. Karena L.Joe adalah pemain yang cukup handal jika tak ada Yui.
“Sudah
berapa orang yang ia sakiti?” tanya anggota yang memakai kacamata itu.
“Sepertinya
10 orang…”
“Ganas
benar dia hari ini… Tapi, kalau begini terus, bagaimana dengan anggota klub
kita? Dia sudah memakan korban banyak.”
“Hmm,
baiklah. Kita laporkan saja pada pelatih, bagaimana?” mereka berdua pun
tersenyum licik.
“Kalian
mau kemana??” tanya L.Joe yang menyadari kalau dua anggota klub hendak keluar
dari ruangan.
“Ne?
Kami ingin ke toilet dulu…” mereka pun segera terburu-buru keluar dari ruangan.
L.Joe tak merasakan curiga apapun. Ia melanjutkan latihannya.
“Ayo!
Selanjutnya!!” teriaknya.
****
>2 hari kemudian..
Pengumuman!
Lee Byung Hoon sampai hari Jumat dilarang
masuk latihan ke ruangan taekwondo
TTD: Pengurus klub taekwondo
Hoya
“Ige
mwoya?!!” teriak L.Joe menggelegar. Tatapan matanya langsung tertuju pada satu
orang disana, sang pengurus klub bernama Hoya.
“Ka..
Kau.. Dilarang…” dengan perlahan L.Joe menghampiri Hoya. Mereka akhirnya saling
berhadapan.
“ByungHoon-ah..”
Hoya membalasnya dengan takut. Tiba-tiba saja L.Joe menarik kerah seragam Hoya.
“Aku
ada pertandingan penting hari sabtu nanti! Kau jangan main-main denganku, ya!!”
teriaknya.
“Kau
jangan mementingkan diri sendiri!” kini Hoya membuka suaranya.
“Hah?”
“Lihat
akibat perbuatanmu itu! Kau berlatih membabi buta sampai tidak memperhatikan
orang lain!” L.Joe melepaskan genggaman tangannya dan menatap pada anggota klub
di dalam ruangan. Mereka terlihat terluka dengan latihan yang dilakukan oleh
L.Joe 2 hari yang lalu.
“Semua
itu kau lakukan hanya untuk mempersiapkan diri untuk hari sabtu. Pernahkah kau
perhatikan keselamatan teman-temanmu yang lain? Pokoknya kau dilarang masuk
sampai hari jumat! Itu perintah! Arasseo, Byung Hoon?!” jelas Hoya. L.Joe hanya
bisa mengalah dan menyerah. Ia menundukkan kepalanya dengan nafas yang
terengah-engah.
Tanpa ia sadari, Yui yang berada di belakangnya melihat
peristiwa itu. Maka ketika L.Joe keluar dari ruangan itu, Yui segera
menghampirinya.
“L.Joe~ya!”
teriak Yui mencoba menghentikannya. Tapi, L.Joe ternyata tak mendengarnya.
“Aissh!
Jinjja! Dasar kau, Hoya! Baik, aku akan latihan sendiri! Aku pasti bisa menang
walau tanpa bantuan mereka!” gumamnya. Yui yang mendengarnya berpikir L.Joe
terlalu sombong dan egois.
“L..Joe~ya!!”
ia mencoba menghentikannya sekali lagi.
“Aku
ingin bicara denganmu.. tentang pertarungan kita hari sabtu nanti, kau serius?”
tanya Yui seraya melipatkan tangannya di depan dada. L.Joe seketika saja
terdiam.
“Apa
kau tak tahu? Rencana itu mengacaukan semua orang..” mereka terdiam sejenak.
“Kau…”
“Kau
jangan bercanda!! Aku ingin bertarung!!” L.Joe berbalik menghadap Yui.
“Aku
tidak mau bertarung!!! Kalau harus bertarung sebelum pindah, aku tak punya
waktu untuk memikirkan yang lainnya! Teman-teman… Kenangan… Semuanya… Sama
sekali tak ada yang tersisa untuk dikenang. Kalau sudah begitu, kan aku juga
yang rugi?” mereka terdiam sejenak.
“Bagaimana?
Kau masih ingin bertarung?” tanya Yui sekali lagi. Tatapannya kini serius.
“Tentu
saja!” jawab L.Joe dengan keyakinannya. Yui sempat terkejut, lalu membalikkan
badannya untuk pergi meninggalkan L.Joe.
“Oke.
Aku akan penuhi semua keinginanmu!” Yui meninggalkan L.Joe disana. Suasana kini
semakin memanas. Semangat L.Joe menjadi naik kembali.
****
Keesokan harinya, di sekolah.
Pagi itu guru belum juga datang. Kelas 1-3 ribut dengan obrolannya
masing-masing. Suara burung di luar ruangan terdengar ke dalam kelas, tapi
hanya orang yang sedang diam yang bisa mendengarnya.
“Byung
Hoon tidak masuk ya?” tanya Chorong melihat bangku L.Joe kosong.
“Masa
ia bela-belain bolos sekolah demi latihan taekwondo. Dasar pabo!” jawab Hoya.
Ia menggaruk-garukkan kepalanya. Sedangkan Chorong hanya menggelengkan
kepalanya.
“Dia
benar-benar… Si siput L.Joe itu serius… Ia menjadikanku sebagai musuhnya..”
gumam Yui. Tanpa ia ketahui, Hoya mendengarkan apa yang Yui katakan.
“Kim-ssaem
sedang dalam perjalanan menuju kelas! Cepat duduk!!!” ujar salah satu murid
yang sejak tadi mengawasi di depan pintu kelas. Sontak saja semua murid
menghampiri bangkunya masing-masing. Yui melirik bangku L.Joe sekali lagi untuk
memastikan bahwa ia memang tidak sekolah.
“Ah..
Jinjja.. Dia memang menganggapku sebagai musuh terbesarnya.” Batin Yui.
****
AKhirnya, bel berbunyi juga.
Waktunya pulang. Semua murid berhamburan keluar ruangan kelasnya masing-masing.
Seakan baru saja bebas dari penjara yang menjeratnya.
Hoya saat itu segera memikirkan
L.Joe. Ia lalu berpikir tempat yang luas di sekita sekolah.
“Ah!
Mungkin taman Dongdae.”
Dan benar saja perkiraan Hoya.
L.Joe tengah berlatih taekwondo disana.
“Hiaaat!!”
“Ternyata
kau ada disini..” ujar Hoya.
“Annyeong!”
sambungnya dengan senyuman.
“Hoya…”
jawab L.Joe dengan pelan.
“Ada
apa? Jangan ganggu aku latihan, aku harus latihan!” L.Joe membalikkan badannya
sehingga membelakangi Hoya.
“Ehmm..
Lho? Taman ini membuat kangen ya! Sepuluh tahun yang lalu, kalian bertarung
untuk pertama kalinya disini.” Hoya memulai pembicaraannya.
“Aku
akan selalu mengingatnya..” batin L.Joe dalam hati. Ia menunduk pelan.
“Kenapa
dari dulu sampai sekarang kau selalu kalah dari Yui?” pertanyaan itu begitu
saja terlontarkan dari mulut Hoya.
“Lho?
Itu kan L.Joe dan Hoya..” tanpa disadari, Yui melihat mereka berdua
berbincang-bincang di taman.
“Aku
tahu perasaanmu pada Yui…” sambung Hoya.
“Lelaki
macam apa…” tiba-tiba saja L.Joe membuka mulutnya.
“Mwo?”
“Lelaki
macam apa yang satu kalipun tak pernah mengungguli yeoja yang disukainya?!!”
kemarahannya membludak. Yui yang masih memperhatikan mereka berdua pun
terkejut.
“Makanya,
aku ingin lebih kuat disbanding Yui… Kalau menang, aku akan menyatakan kalau
aku suka padanya. Perasaan ini.. Haruskah berakhir tanpa diucapkan?”
****
#To Be Continued

Tidak ada komentar:
Posting Komentar