~Chapter 8~
<3 Bad Handwriting <3
Cast :
-
Lee Chan
Hee (Chunji)
-
Song Hye
Ri (Hyeri)
-
Lee Min
Hyuk (Minhyuk)
-
Son Na
Eun (Naeun)
Pagi hari yang cerah. Secerah wajah gadis yang berjalan di
koridor sekolah itu. ia menguraikan rambutnya dan menuju ke salah satu kelas.
Akhirnya, ia menemukan kelas tujuannya, yaitu kelas 1-4.
“Annyeong!
Chunji-ya!” wanita itu menghampiri seorang pria yang sedang duduk di bangkunya.
Ia berjalan tanpa merasa malu masuk ke kelas orang lain.
“Ini.
Kemarin Hyeri memintaku untuk menyampaikan surat ini padamu.” Ujarnya seraya
memberikan sebuah surat.
“Surat
apa ini?” tanyan wanita itu.
“Moreugesseoyo…
Ah, ngomong-ngomong terimakasih ya, Naeun..”
“Eoh…
Surat cinta ya?? Lihat dong!!” sahutnya.
“Kyaa!
Kau jangan ikut campur! Aku pergi ke balkon dulu ya…” Chunji meninggalkan Naeun
terlebih dahulu. Setelah tak berada di pandangan Naeun, ia tersenyum licik.
****
“Kyaa!
Naeun-ah!” teriak seseorang ketika jam istirahat.
“Eh,
Chunji? Bagaimana surat cintanya??” tanya Naeun dengan santai. Chunji tak
menjawabnya. Ia hanya membuang nafasnya dan memberikan surat pada Naeun.
“Ini..
Bisakah kau memberikannya pada Hyeri? Tolong ya…” Chunji pun pergi meninggalkan
Naeun. Naeun segera pergi ke toilet wanita untuk membacanya.
“Kenapa
harus member balasan segala? Ahaha.. Pasti balasannya sadis deh…” gumamnya.
Hyeri,
aku sudah membaca suratmu. Tak kusangka kau membenciku. Jujur saja, aku
terkejut. Tapi… aku sama sekali tidak menyesal telah mengutarakan perasaanku
lewat surat. Perasaanku padamu, tetap tak akan berubah.
Mianhaeyo,
aku akan tetap mencintaimu meski harus bertepuk sebelah tangan.
~
Lee Chan Hee ~
“Mwo?!
Sebegitu sukanyakah kau pada Hyeri?!! Aku tidak terima! Aku tidak bisa
terima!!” teriaknya. Untung saja saat itu tidak ada orang sama sekali di dalam
toilet.
****
“Ini,
Hyeri. Balasan darinya..” ujar Naeun seperti biasanya.
“Ah,
gomawo…” jawab Hyeri tertegun.
“Baca
dong!”
“Se..
sekarang?”
“Ne.
Baca sekarang!”
“Tapi…”
“Pokoknya
sekarang!!!” Naeun terlihat berbeda hari itu. Hyeri pun tak bisa mengelak. Ia
segera membuka suratnya.
“Lho?
Suratnya diketik?” tanya Hyeri pada dirinya sendiri.
“Ti..
Tidak…” air mata Hyeri seakan akan keluar dari pelupuk matanya. Ia segera
berlari keluar kelas dan melempar surat itu ke lantai.
“Hm,
repot sekali. Harus menulis surat 2 arah, baru selesai masalahnya…” gumam Naeun
saat Hyeri sudah tak ada di kelas.
“Apa
katamu?” tanya seseorang dari belakang. Suaranya terdengar familiar di telinga
Naeun. Ketika berbalik, ternyata itu temannya, Minhyuk!
“Apa
yang kau katakan tadi?!!!” teriak Minhyuk.
“A..
Apa maksudmu??”
“Hah…
Kau sudah tidak bisa mengelak. Hari ini aku mengikutimu.” Ujarnya menatap benci
pada Naeun.
“M..
Mwo??! Sa.. sampai mana??” ia terlihat gugup sekarang.
“Dari
kau di toilet sampai sekarang.”
“Ah,
baiklah! Aku mengaku! Ini semua aku yang melakukannya! Karena aku mencintai
Chunji! Arasseo???!”
“Jadi?”
“Ne!
Aku menyukainya. Aku tidak ingin Hyeri menghalangiku!!!!” jawab Naeun dengan
beraninya.
“Hmm,
itu namanya teman? Tulisanmu bagus, tapi aku meragukan sifatmu..” Minhyuk
segera berlari untuk mengejar Hyeri. Ia tahu, Hyeri pasti pergi ke atap gedung
sekolah. Setiap Hyeri sedih, ia selalu ada disana.
Hyeri,
aku sudah membaca suratmu. Aku kecewa. Tulisan di surat itu jelas-jelas adalah
tulisan Son Na Eun. Masa kau sampai menyuruh orang lain untuk menulis surat
untukku?
Jujur
saja, hatiku langsung membeku. Anggap saja surat cinta dariku tak pernah ada.
Aku tak suka padamu. Selamat tinggal…
~
Chunji ~
Hyeri berlari dengan air mata
yang berjatuhan. Ia mengingat isi surat dari Chunji yang membuatnya sangatlah
menyesal. Ia segera menghampiri atap gedung sekolah. Hyeri menangisi dirinya
sendiri seraya berdiri menatap sekitar.
“Gwaenchanayo?”
tanya seseorang yang secara tiba-tiba menghampirinya.
“Minhyuk-ah?
An gwaenchana…” jawabnya mencoba menghapus air matanya. Minhyuk merangkul pundak
Hyeri kali ini. Ia mencoba menenangkannya.
“Aku
sangat menyesal.. Kenapa aku menggunakan tulisan orang lain? Jika saja…” ucapan
Hyeri terpotong oleh Minhyuk. Minhyuk memeluk Hyeri dengan erat membuat Hyeri
terkejut sekali.
“Saranghaeyo..”
ujar Minhyuk. Kini, suasana menjadi panas.
“M..
Minhyuk-ah?” tanya Hyeri dengan suara terbata-bata. Minhyuk melepaskan
pelukannya untuk menatap Hyeri, untuk meyakinkannya.
“Saranghaeyo…”
sahutnya lagi.
“Se..
Sejak kapan?”
“Sejak
kita berada di kelas yang sama..”
“Dari
awal pertemuan kita?” Hyeri kembali memastikan. Minhyuk mengangguk.
“Mianhae,
baru kali ini aku bisa mengatakannya.”
“Tapi…”
“Gwaenchana..
Aku tahu kau tidak akan menerimanya. Tapi, setidaknya aku bisa lega. Kau sudah
tahu bagaimana perasaanku padamu..”
“Tidak
seperti itu. Berikanlah aku waktu…” Hyeri menolehkan wajahnya keluar.
“Tentu
saja. Aku tahu akan seperti ini…” jawab Minhyuk. Ia pun ikut melihat ke
sekitarnya.
“Mianhae
telah membuatmu merasakan hal seperti itu…”
“Ne?
Itu memang pesonamu. Kau disukai dua orang pria. Kau pasti sulit.”
“Hmmm.
Mungkin kini hanya satu orang.” Hyeri tersenyum pada Minhyuk.
“Tak
masalah walau hanya satu orang yang menyukaiku. Aku hanya ingin bahagia….”
Sambung Hyeri.
****
Keesokan harinya, Hyeri berlari dengan kecepatannya menuju
sekolah. Ia terlambat! Pelajaran sudah dimulai 5 menit yang lalu, sementara
Hyeri baru saja datang. Ia segera dengan kecepatannya menghampiri kelasnya.
Tanpa disengaja, ia menabrak
seseorang yang berjalan bersebrangan dengannya. Tanpa sadar, tangan Hyeri
menyentuh pundak pria itu. Begitupun dengan pria tersebut untuk mencegah
keduanya jatuh.
“Hye..
Hyeri?” sahut pria itu. Mereka berdua saling diam dengan berdiri. Hyeri menelan
ludahnya dan segera pergi darisana.
“Kenapa
kau pergi? Sebegitu bencinyakah kau padaku?” tanyanya.
“Mianhae!
Sebenarnya tulisanku jelek sekali! Makanya aku malu kalau harus nulis surat
dengan tulisanku sendiri. Aku tidak ingin kau membenciku, Chunji!” Hyeri
menjawabnya seraya berlari.
“Apa
maksudmu, Hyeri? Bukannya kau yang membenciku??! Kok malahaku yang membencimu?”
tanya Chunji penasaran. Hyeri tetap berlari karena ingin segera masuk ke dalam
kelas. Selain itu, ia juga ingin menghindari Chunji. Ia belum siap
menghadapinya.
“Tunggu!”
Chunji dengan sigapnya mengejar Hyeri dan memegang tangannya agar tak berlari
lagi.
“Kau
dengar yang kuucapkan?” tanya Chunji seraya mengatur nafasnya. Hyeri hanya
terdiam membisu. Kini mereka saling berhadapan. Walau tidak dalam jarak yang
dekat, tapi suasana saat itu sungguh menegangkan.
“Kau
benci padaku?” Hyeri menggelengkan kepalanya.
“Aku
juga tak membencimu, Hyeri-ah…” ujar Chunji. Ucapan itu membuat Hyeri bingung.
“Aku
tidak tahu kalau tulisanmu jelek. Tapi tiap orang pasti memiliki sesuatu yang
membuat malu. Ya , kan?”
“Seperti
tadi.. sempat-sempatnya aku membuang gas… Membuat malu saja..” Chunji menggaruk
kepalanya yang tak gatal. Hyeri terdiam sejenak dengan ucapannya. Dengan reaksi
seperti itu, Chunji pun merasa candaannya tidak berhasil.
“Semua
ini jangan dijadikan alasan untuk membenci diri sendiri. Sebaliknya, kita harus
mencintai diri kita apa adanya, agar timbul rasa percaya diri. Itu sebabnya..
meski andaikan kau membenciku, perasaanku takkan berubah. Nan johahae,
Hyeri-ah…” jelasnya. Itu semua membuat Hyeri tertegun.
“Nado…
johahae…” jawab Hyeri tersenyum tenang.
****
Hyeri yang saat itu terlambat
masuk kelas, ia segera meminta izin pada guru piket. Ketika masuk ke dalam
kelas, ia juga meminta maaf kepada semua teman-temannya termasuk Guru yang
sedang mengajar.
“Karena
kau terlambat, seperti biasa. Kau harus dihukum.” Hyeri menerimanya dengan
tenang. Wajahnya kini sudah mulai seperti biasa lagi.
“Ada
apa dengan Hyeri?” batin Minhyuk dalam hati.
“Baiklah.
Bukankah kemarin ada pekerjaan rumah? Tolong dikumpulkan..” ujar Han
sonsaengnim. Minhyuk yang mendengarnya segera menyembunyikan buku tulisnya di
kolong meja.
“Lee
Minhyuk! Kau tidak mengerjakan PR?” tanya Guru.
“Juisonghamnida…”
Minhyuk akhirnya keluar dari kelas untuk menerima hukuman. Disana sudah ada
Hyeri yang sedang menerima hukumannya. Walaupun kemarin sempat terjadi
ketegangan diantara mereka, tapi mereka bisa dengan cepat mengatasinya.
“Minhyuk-ah?
Waeyo?” tanya Hyeri menurunkan tangannya yang semula berada di atas.
“Aku
lupa mengerjakan PR. Kau kenapa terlambat?” tanya Minhyuk seraya melirik tangan
Hyeri.
“Ah, ne. Hehe..” Hyeri kembali mengacungkan kedua tangannya ke atas seraya berlutut. Begitupun dengan Minhyuk.
“Ah, ne. Hehe..” Hyeri kembali mengacungkan kedua tangannya ke atas seraya berlutut. Begitupun dengan Minhyuk.
“Mollayo..”
jawab Hyeri.
“Kau
pasti tidur nyenyak?”
“Terlalu
nyenyak. Makanya aku terlambat.. hehe…” jawabnya dengan wajah tenang.
“Kau
sudah kembali menjadi Hyeri. Ada apa sebenarnya??”
“Hmm,
aku sekarang tahu perasaan Chunji padaku… Yang sebenarnya… Tadi aku bertemu
dengannya. Tapi, aku masih bingung…”
“Bingung?”
“Ne..
Bagaimana mungkin yang ia ceritakan berbeda dengan isi surat itu?”
“Kau…
menyukainya?” tanya Minhyuk.
“Hmm,
ne.. AH! Mianhae, Minhyuk-ah!” Hyeri terkejut dengan jawabannya sendiri. Ia
menutup mulutnya. Hyeri ingat bahwa Minhyuk juga menyukainya, sedangkan ia tak
memperhatikan perasaan Minhyuk setelah pembicaraan kemarin. Hyeri belum juga
memberikan jawabannya kepada Minhyuk. Tapi, Hyeri sudah memberikan jawabannya
terhadap Chunji.
“Hmm,
arasseo.. Aku tahu ini akan terjadi. Tenang saja… Chukkae!” jawab Minhyuk
dengan tenang.
“Aniyo!
Kami.. tidak menjadi pasangan kekasih..”
“Mwo?!”
“Aku
memintanya untuk berteman dulu... Ah, kenapa aku jadi terlihat seperti
serakah?” Hyeri menjawabnya dengan tawaan kecil.
“Jinjja??
Tapi aku setuju jika kau dekat dengannya…”
“Aku
tidak ingin kau seperti ini. Kau harus berjuang mendapatkan Song Hye Ri, Miss
Korea ini..”
“Kyaaa!!”
“Aniyo.
Aku tergantung padamu. Aku tidak akan menjadi serakah. Aku tidak memaksa
siapapun disini untuk memilih. Akupun bingung..”
“Jika
saja aku mengatakannya sedari dulu, kau tidak akan bingung seperti ini, kan?”
“Ne?
Waeyo?”
“Kau
kan pasti memilihku! Lee Minhyuk yang tampan ini!!”
“Lalu
kenapa kau tidak sepopuler Chunji?” candaan Hyeri membuatnya menutup mulut.
“Ne.
Aku memang tidak popular. Tapi, aku beruntung bisa sekelas denganmu…” mereka
berdua pun tersenyum.
****
Akhirnya, jam istirahat pun
tiba. Hukuman Hyeri dan Minhyuk berakhir. Tangan mereka pegal karena hukuman
ini. Hyeri segera pergi ke taman belakang untuk bertemu dengan Chunji. Chunji
memintanya untuk bertemu ketika istirahat nanti. Maka dari itu, ia harus
menepatinya.
“Tulisanmu
bagus, kok. Mencerminkan pribadinya.. Yang berkata jelek pasti belum kenal
orangnya…” ujar Chunji di tengah pembicaraan mereka. Hyeri saat itu membawa
buku catatannya, karena ia meminta Hyeri membawanya.
“Bilang
saja terus terang, memang jelek kan?” jawab Hyeri sedikit kesal.
“Ngomong-ngomong
Son Na Eun sedang sakit sejak kemarin, ya?” tanya Chunji mengalihkan
pembicaraannya.
“Ah,
ne.. Hari ini dia juga tidak sekolah. Semoga ia cepat sembuh..”
“Hahaha..
Itu namanya karma.”
“Karma?
Wae?”
“Kau
belum tahu dalang dibalik semua ini??” tanya Chunji penasaran.
“Arasseo…
Minhyuk menceritakannya padaku..”
“Minhyuk?
Nugu??!” tanya Chunji sedikit kesal.
“Teman
dekatku.. Teman sekelas..” jawab Hyeri. Chunji terlihat kesal mendengarnya. Ia
berkali-kali mengingat nama itu.
“Nama
awalnya apa?”
“Lee..
Wae?? Bukankah sama denganmu?” Hyeri menjawabnya dengan senyuman.
“Aniyo… Ah.. Lee Minhyuk.. Hmm.” Jawabnya
seraya menundukkan kepala.
“Aku
cemas. Semoga Naeun cepat sembuh. Bagaimanapun, ia adalah temanku..”
“AHahaha!!
Orangnya persis dengan tulisannya! Ternyata betul kata pepatah, tulisan mencerminkan
kepribadian orangnya!” sahut Chunji dengan antusiasnya.
“Eh?
Kok kau tertawa? Maksudmu tulisanku jelek, sifatku juga begitu?”
“Aniyo..
Tulisanmu tidak buruk.” Jawab Chunji. Mereka pun tersenyum bersama.
“Ada
dua orang yang berkata sama. Eomma… dan Chunji..” batin Hyeri dalam hatinya.
****
#THE END
Bad Handwriting the end ^^
Gimana? Eits! Jangan pergi dulu! Kalau
ingin lanjutan kisah mereka, boleh komentar. Kalau komentarnya cukup banyak
yang ingin dilajutin, KyuPha bakalan buat bonus chapternya! ^^ Gamsahamnida
#bow
sebenernya emang ada bonus chapternya kok! nanti semuanya akan bertemu... tunggu aja yaa!!
#To Be Continued

Tidak ada komentar:
Posting Komentar