Selasa, 04 Juni 2013

Love Story *Chapter 8 - Bad Handwriting




~Chapter 8~
<3 Bad Handwriting <3

Cast       :
-          Lee Chan Hee (Chunji)
-          Song Hye Ri (Hyeri)
-          Lee Min Hyuk (Minhyuk)
-          Son Na Eun (Naeun)


Pagi hari yang cerah. Secerah wajah gadis yang berjalan di koridor sekolah itu. ia menguraikan rambutnya dan menuju ke salah satu kelas. Akhirnya, ia menemukan kelas tujuannya, yaitu kelas 1-4.
“Annyeong! Chunji-ya!” wanita itu menghampiri seorang pria yang sedang duduk di bangkunya. Ia berjalan tanpa merasa malu masuk ke kelas orang lain.

“Ini. Kemarin Hyeri memintaku untuk menyampaikan surat ini padamu.” Ujarnya seraya memberikan sebuah surat.
“Surat apa ini?” tanyan wanita itu.
“Moreugesseoyo… Ah, ngomong-ngomong terimakasih ya, Naeun..”
“Eoh… Surat cinta ya?? Lihat dong!!” sahutnya.
“Kyaa! Kau jangan ikut campur! Aku pergi ke balkon dulu ya…” Chunji meninggalkan Naeun terlebih dahulu. Setelah tak berada di pandangan Naeun, ia tersenyum licik.
****
“Kyaa! Naeun-ah!” teriak seseorang ketika jam istirahat.
“Eh, Chunji? Bagaimana surat cintanya??” tanya Naeun dengan santai. Chunji tak menjawabnya. Ia hanya membuang nafasnya dan memberikan surat pada Naeun.
“Ini.. Bisakah kau memberikannya pada Hyeri? Tolong ya…” Chunji pun pergi meninggalkan Naeun. Naeun segera pergi ke toilet wanita untuk membacanya.
“Kenapa harus member balasan segala? Ahaha.. Pasti balasannya sadis deh…” gumamnya.
                Hyeri, aku sudah membaca suratmu. Tak kusangka kau membenciku. Jujur saja, aku terkejut. Tapi… aku sama sekali tidak menyesal telah mengutarakan perasaanku lewat surat. Perasaanku padamu, tetap tak akan berubah.
                Mianhaeyo, aku akan tetap mencintaimu meski harus bertepuk sebelah tangan.
                                                                                                                                                                ~ Lee Chan Hee ~

“Mwo?! Sebegitu sukanyakah kau pada Hyeri?!! Aku tidak terima! Aku tidak bisa terima!!” teriaknya. Untung saja saat itu tidak ada orang sama sekali di dalam toilet.
****
“Ini, Hyeri. Balasan darinya..” ujar Naeun seperti biasanya.
“Ah, gomawo…” jawab Hyeri tertegun.
“Baca dong!”
“Se.. sekarang?”
“Ne. Baca sekarang!”
“Tapi…”
“Pokoknya sekarang!!!” Naeun terlihat berbeda hari itu. Hyeri pun tak bisa mengelak. Ia segera membuka suratnya.
“Lho? Suratnya diketik?” tanya Hyeri pada dirinya sendiri.
“Ti.. Tidak…” air mata Hyeri seakan akan keluar dari pelupuk matanya. Ia segera berlari keluar kelas dan melempar surat itu ke lantai.
“Hm, repot sekali. Harus menulis surat 2 arah, baru selesai masalahnya…” gumam Naeun saat Hyeri sudah tak ada di kelas.
“Apa katamu?” tanya seseorang dari belakang. Suaranya terdengar familiar di telinga Naeun. Ketika berbalik, ternyata itu temannya, Minhyuk!
“Apa yang kau katakan tadi?!!!” teriak Minhyuk.
“A.. Apa maksudmu??”
“Hah… Kau sudah tidak bisa mengelak. Hari ini aku mengikutimu.” Ujarnya menatap benci pada Naeun.
“M.. Mwo??! Sa.. sampai mana??” ia terlihat gugup sekarang.
“Dari kau di toilet sampai sekarang.”
“Ah, baiklah! Aku mengaku! Ini semua aku yang melakukannya! Karena aku mencintai Chunji! Arasseo???!”
“Jadi?”
“Ne! Aku menyukainya. Aku tidak ingin Hyeri menghalangiku!!!!” jawab Naeun dengan beraninya.
“Hmm, itu namanya teman? Tulisanmu bagus, tapi aku meragukan sifatmu..” Minhyuk segera berlari untuk mengejar Hyeri. Ia tahu, Hyeri pasti pergi ke atap gedung sekolah. Setiap Hyeri sedih, ia selalu ada disana.
                Hyeri, aku sudah membaca suratmu. Aku kecewa. Tulisan di surat itu jelas-jelas adalah tulisan Son Na Eun. Masa kau sampai menyuruh orang lain untuk menulis surat untukku?
                Jujur saja, hatiku langsung membeku. Anggap saja surat cinta dariku tak pernah ada. Aku tak suka padamu. Selamat tinggal…
                                                                                                                                                                ~ Chunji ~

                Hyeri berlari dengan air mata yang berjatuhan. Ia mengingat isi surat dari Chunji yang membuatnya sangatlah menyesal. Ia segera menghampiri atap gedung sekolah. Hyeri menangisi dirinya sendiri seraya berdiri menatap sekitar.
“Gwaenchanayo?” tanya seseorang yang secara tiba-tiba menghampirinya.
“Minhyuk-ah? An gwaenchana…” jawabnya mencoba menghapus air matanya. Minhyuk merangkul pundak Hyeri kali ini. Ia mencoba menenangkannya.
“Aku sangat menyesal.. Kenapa aku menggunakan tulisan orang lain? Jika saja…” ucapan Hyeri terpotong oleh Minhyuk. Minhyuk memeluk Hyeri dengan erat membuat Hyeri terkejut sekali.
“Saranghaeyo..” ujar Minhyuk. Kini, suasana menjadi panas.
“M.. Minhyuk-ah?” tanya Hyeri dengan suara terbata-bata. Minhyuk melepaskan pelukannya untuk menatap Hyeri, untuk meyakinkannya.
“Saranghaeyo…” sahutnya lagi.
“Se.. Sejak kapan?”
“Sejak kita berada di kelas yang sama..”
“Dari awal pertemuan kita?” Hyeri kembali memastikan. Minhyuk mengangguk.
“Mianhae, baru kali ini aku bisa mengatakannya.”
“Tapi…”
“Gwaenchana.. Aku tahu kau tidak akan menerimanya. Tapi, setidaknya aku bisa lega. Kau sudah tahu bagaimana perasaanku padamu..”
“Tidak seperti itu. Berikanlah aku waktu…” Hyeri menolehkan wajahnya keluar.
“Tentu saja. Aku tahu akan seperti ini…” jawab Minhyuk. Ia pun ikut melihat ke sekitarnya.
“Mianhae telah membuatmu merasakan hal seperti itu…”
“Ne? Itu memang pesonamu. Kau disukai dua orang pria. Kau pasti sulit.”
“Hmmm. Mungkin kini hanya satu orang.” Hyeri tersenyum pada Minhyuk.
“Tak masalah walau hanya satu orang yang menyukaiku. Aku hanya ingin bahagia….” Sambung Hyeri.
****
 
Keesokan harinya, Hyeri berlari dengan kecepatannya menuju sekolah. Ia terlambat! Pelajaran sudah dimulai 5 menit yang lalu, sementara Hyeri baru saja datang. Ia segera dengan kecepatannya menghampiri kelasnya.
                Tanpa disengaja, ia menabrak seseorang yang berjalan bersebrangan dengannya. Tanpa sadar, tangan Hyeri menyentuh pundak pria itu. Begitupun dengan pria tersebut untuk mencegah keduanya jatuh.
“Hye.. Hyeri?” sahut pria itu. Mereka berdua saling diam dengan berdiri. Hyeri menelan ludahnya dan segera pergi darisana.
“Kenapa kau pergi? Sebegitu bencinyakah kau padaku?” tanyanya.
“Mianhae! Sebenarnya tulisanku jelek sekali! Makanya aku malu kalau harus nulis surat dengan tulisanku sendiri. Aku tidak ingin kau membenciku, Chunji!” Hyeri menjawabnya seraya berlari.
“Apa maksudmu, Hyeri? Bukannya kau yang membenciku??! Kok malahaku yang membencimu?” tanya Chunji penasaran. Hyeri tetap berlari karena ingin segera masuk ke dalam kelas. Selain itu, ia juga ingin menghindari Chunji. Ia belum siap menghadapinya.
“Tunggu!” Chunji dengan sigapnya mengejar Hyeri dan memegang tangannya agar tak berlari lagi.
“Kau dengar yang kuucapkan?” tanya Chunji seraya mengatur nafasnya. Hyeri hanya terdiam membisu. Kini mereka saling berhadapan. Walau tidak dalam jarak yang dekat, tapi suasana saat itu sungguh menegangkan.
“Kau benci padaku?” Hyeri menggelengkan kepalanya.
“Aku juga tak membencimu, Hyeri-ah…” ujar Chunji. Ucapan itu membuat Hyeri bingung.
“Aku tidak tahu kalau tulisanmu jelek. Tapi tiap orang pasti memiliki sesuatu yang membuat malu. Ya , kan?”
“Seperti tadi.. sempat-sempatnya aku membuang gas… Membuat malu saja..” Chunji menggaruk kepalanya yang tak gatal. Hyeri terdiam sejenak dengan ucapannya. Dengan reaksi seperti itu, Chunji pun merasa candaannya tidak berhasil.
“Semua ini jangan dijadikan alasan untuk membenci diri sendiri. Sebaliknya, kita harus mencintai diri kita apa adanya, agar timbul rasa percaya diri. Itu sebabnya.. meski andaikan kau membenciku, perasaanku takkan berubah. Nan johahae, Hyeri-ah…” jelasnya. Itu semua membuat Hyeri tertegun.
“Nado… johahae…” jawab Hyeri tersenyum tenang.
****
                Hyeri yang saat itu terlambat masuk kelas, ia segera meminta izin pada guru piket. Ketika masuk ke dalam kelas, ia juga meminta maaf kepada semua teman-temannya termasuk Guru yang sedang mengajar.
“Karena kau terlambat, seperti biasa. Kau harus dihukum.” Hyeri menerimanya dengan tenang. Wajahnya kini sudah mulai seperti biasa lagi.
“Ada apa dengan Hyeri?” batin Minhyuk dalam hati.
“Baiklah. Bukankah kemarin ada pekerjaan rumah? Tolong dikumpulkan..” ujar Han sonsaengnim. Minhyuk yang mendengarnya segera menyembunyikan buku tulisnya di kolong meja.
“Lee Minhyuk! Kau tidak mengerjakan PR?” tanya Guru.
“Juisonghamnida…” Minhyuk akhirnya keluar dari kelas untuk menerima hukuman. Disana sudah ada Hyeri yang sedang menerima hukumannya. Walaupun kemarin sempat terjadi ketegangan diantara mereka, tapi mereka bisa dengan cepat mengatasinya.
“Minhyuk-ah? Waeyo?” tanya Hyeri menurunkan tangannya yang semula berada di atas.
“Aku lupa mengerjakan PR. Kau kenapa terlambat?” tanya Minhyuk seraya melirik tangan Hyeri.
“Ah, ne. Hehe..” Hyeri kembali mengacungkan kedua tangannya ke atas seraya berlutut. Begitupun dengan Minhyuk.
“Mollayo..” jawab Hyeri.
“Kau pasti tidur nyenyak?”
“Terlalu nyenyak. Makanya aku terlambat.. hehe…” jawabnya dengan wajah tenang.
“Kau sudah kembali menjadi Hyeri. Ada apa sebenarnya??”
“Hmm, aku sekarang tahu perasaan Chunji padaku… Yang sebenarnya… Tadi aku bertemu dengannya. Tapi, aku masih bingung…”
“Bingung?”
“Ne.. Bagaimana mungkin yang ia ceritakan berbeda dengan isi surat itu?”
“Kau… menyukainya?” tanya Minhyuk.
“Hmm, ne.. AH! Mianhae, Minhyuk-ah!” Hyeri terkejut dengan jawabannya sendiri. Ia menutup mulutnya. Hyeri ingat bahwa Minhyuk juga menyukainya, sedangkan ia tak memperhatikan perasaan Minhyuk setelah pembicaraan kemarin. Hyeri belum juga memberikan jawabannya kepada Minhyuk. Tapi, Hyeri sudah memberikan jawabannya terhadap Chunji.
“Hmm, arasseo.. Aku tahu ini akan terjadi. Tenang saja… Chukkae!” jawab Minhyuk dengan tenang.
“Aniyo! Kami.. tidak menjadi pasangan kekasih..”
“Mwo?!”
“Aku memintanya untuk berteman dulu... Ah, kenapa aku jadi terlihat seperti serakah?” Hyeri menjawabnya dengan tawaan kecil.
“Jinjja?? Tapi aku setuju jika kau dekat dengannya…”
“Aku tidak ingin kau seperti ini. Kau harus berjuang mendapatkan Song Hye Ri, Miss Korea ini..”
“Kyaaa!!”
“Aniyo. Aku tergantung padamu. Aku tidak akan menjadi serakah. Aku tidak memaksa siapapun disini untuk memilih. Akupun bingung..”
“Jika saja aku mengatakannya sedari dulu, kau tidak akan bingung seperti ini, kan?”
“Ne? Waeyo?”
“Kau kan pasti memilihku! Lee Minhyuk yang tampan ini!!”
“Lalu kenapa kau tidak sepopuler Chunji?” candaan Hyeri membuatnya menutup mulut.
“Ne. Aku memang tidak popular. Tapi, aku beruntung bisa sekelas denganmu…” mereka berdua pun tersenyum.
****
                Akhirnya, jam istirahat pun tiba. Hukuman Hyeri dan Minhyuk berakhir. Tangan mereka pegal karena hukuman ini. Hyeri segera pergi ke taman belakang untuk bertemu dengan Chunji. Chunji memintanya untuk bertemu ketika istirahat nanti. Maka dari itu, ia harus menepatinya.
“Tulisanmu bagus, kok. Mencerminkan pribadinya.. Yang berkata jelek pasti belum kenal orangnya…” ujar Chunji di tengah pembicaraan mereka. Hyeri saat itu membawa buku catatannya, karena ia meminta Hyeri membawanya.
“Bilang saja terus terang, memang jelek kan?” jawab Hyeri sedikit kesal.
“Ngomong-ngomong Son Na Eun sedang sakit sejak kemarin, ya?” tanya Chunji mengalihkan pembicaraannya.
“Ah, ne.. Hari ini dia juga tidak sekolah. Semoga ia cepat sembuh..”
“Hahaha.. Itu namanya karma.”
“Karma? Wae?”
“Kau belum tahu dalang dibalik semua ini??” tanya Chunji penasaran.
“Arasseo… Minhyuk menceritakannya padaku..”
“Minhyuk? Nugu??!” tanya Chunji sedikit kesal.
“Teman dekatku.. Teman sekelas..” jawab Hyeri. Chunji terlihat kesal mendengarnya. Ia berkali-kali mengingat nama itu.
“Nama awalnya apa?”
“Lee.. Wae?? Bukankah sama denganmu?” Hyeri menjawabnya dengan senyuman.
 “Aniyo… Ah.. Lee Minhyuk.. Hmm.” Jawabnya seraya menundukkan kepala.
“Aku cemas. Semoga Naeun cepat sembuh. Bagaimanapun, ia adalah temanku..”
“AHahaha!! Orangnya persis dengan tulisannya! Ternyata betul kata pepatah, tulisan mencerminkan kepribadian orangnya!” sahut Chunji dengan antusiasnya.
“Eh? Kok kau tertawa? Maksudmu tulisanku jelek, sifatku juga begitu?”
“Aniyo.. Tulisanmu tidak buruk.” Jawab Chunji. Mereka pun tersenyum bersama.
“Ada dua orang yang berkata sama. Eomma… dan Chunji..” batin Hyeri dalam hatinya.
****

#THE END
Bad Handwriting the end ^^
Gimana? Eits! Jangan pergi dulu! Kalau ingin lanjutan kisah mereka, boleh komentar. Kalau komentarnya cukup banyak yang ingin dilajutin, KyuPha bakalan buat bonus chapternya! ^^ Gamsahamnida #bow 
sebenernya emang ada bonus chapternya kok! nanti semuanya akan bertemu... tunggu aja yaa!!

#To Be Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar